AFTER TOMORROW
(1)
SEJAK KAPAN SEMUA INI BERAKHIR?
Selamat pagi Arya.
Apa kabarmu?
Lama kita tak bertukar cerita. Aku yakin hari-hari barumu lebih indah tanpa
adanya aku. Dulu kita pernah bertekad untuk saling seiya-sekata. Sejalur dan
setujuan. Tapi rupa-rupanya waktu memberikan kita sela untuk dapat melihat
bahwa ada banyak hal diantara kau dan aku yang berbeda. Waktu memberikan kita
jeda untuk merasa, bahwa kau dan aku akan lebih baik tidak bersama.
Arya.
Setelah perasaanku yang begitu meletup-letup kepadamu beberapa waktu lalu,
yang seakan telah seperti magma yang tak sabar menjadi lava, seperti matahari
pagi yang sudah tidak sabar menyinari dunia; tiba-tiba sekarang semua lenyap
begitu saja.
Tidak ada lagi engkau. Tidak ada lagi yang begitu sempurna dan membuat
jantung berdegup kencang sebagaimana dulu ketika aku melihatmu berjalan
mendekat ke arahku.
Arya.
Bahkan mendengar namamu saja (dulu) aku bahagia. Tetapi sekarang semua
benar-benar hanya sebuah normalitas yang tidak dapat membuatku merasakan
apa-apa.
Arya, maafkan aku.
Kurasa pilihanmu untuk pergi adalah pilihan terbaik yang pernah kau buat.
Aku merindukanmu. Memang. Tetapi aku tak ingin merusak kebebasanmu dengan
mengusik kehidupanmu lagi.
Karena apa?
Karena kau berhak bahagia, Arya.
Kau berhak bahagia.
Tertanda
Ayudya
Comments
Post a Comment